MAKASSAR -- Jam dinding bundar tertempel di diding kamar Rumah Sakit menunjukkan pukul 22.25 wita. Lebih dari lima gadis-gadis, entah mereka ada enam, tujuh atau bahkan sepuluh orang berpakaian putih-putih menyaksikan kedatanganmu dari alam rahim ke dunia ini. Diantara gadis-gadis itu beberapa menit sebelumnya aku duduk manis dikursi bundar yang ada disamping ranjang yang telah disiapkan pihak Rumah Sakit.
Terbaring lemas, akibat tenaga yang berlebihan dia keluarkan disaat sakit terjadwal itu menghampirinya, kala sakit itu datang aku tak dapat berbuat banyak hanya mampu memegang tangannya dengan erat sambil membisikkan doa-doa. "Ya Allah berikanlah kekuatan Istriku menghadapi nikmat-MU ini dan selamatkanlah dia bersama calon anakku."
Bukan aku yang alami sakit itu, tapi aku bisa merasakan perihnya. Sakit terjadwal itu mulai dirasakan sekitar pukul 20.00 wita tepatnya malam Minggu, 12 April 2014. Mengurangi rasa sakit yang berlebihan saya dan beberapa perawat yang ada disekitar tempat pembaringan hanya bisa memberikan semangat dan dukungan. Beberapa hasil pemeriksaan bahkan tiga hari sebelum kelahiran anakku telah memvonis bahwa anak ketiga kami ini laki-laki. Artinya tidak lama lagi keluarga kami akan diramaikan tangisan putra yang ketiga.
Sebagai orang tua tentunya kami sangat mengharapkan dan mendambakan anak ketiga kami perempuan, karena Tuhan telah memberikan kami dua amanah anak laki-laki, tapi inilah kehendak tuhan, mendengar pemeriksaan calon bayi ketiga kami laki-laki kami hanya bisa bersyukur dan menerima walau pun ada sedikit kecewa yang menyelimuti.
Walaupun beberapa hasil pemeriksaan selalu memberi hasil anak kami memiliki "Menara" saya tidak pernah putus asa menyelipkan doa didalam sholatku "Ya, ALLAH aku tahu calon anak ketiga kami laki-laki tapi mohon berikanlah kami kesempatan memiliki anak perempuan."
Sakit yang dirasakan Istriku tercinta telah mencapai puncaknya, saya yang setia mendampinginya saat itu pun menjadi sasaran kesakitan, hingga akhirnya tenaga medis mengatakan "Pembukaannya telah sempurna". Sedikit rasa lega mendengarkan semua itu walaupun istri terus merasakan sakit yang berkepanjangan hingga akhirnya tenaga medis memintanya mengejan kuat-kuat.
Berdiri disamping sang Istri yang kesakitan sambil memeluknya dengan erat pertanda memberika dukungan, hanya beberapa detik kepala bayi kami telah terlihat. Karena kekuatan istri yang hampir habis akibat terlalu boros sebelumnya dia pun istirahat sesaat mengejan sebelum melanjutkan persalinan. Saat Mengejan kedua bayi kamipun terlahir sempurna.
Saat melihat tenaga medis yang membantu persalinan istriku menarik dan mengangkat keluar bayi kami, kebahagian ku tak dapat tergambarkan tepat di depan mataku ku lihat belahan itu, setelah melihat keajaiban seolah tak ada jedah, bibirku langsung menghampiri telinga Sang Istri sambil berbisik Anak Kita Perempuan.
"Ya Allah Terima Kasih Telah mengabulkan doa-doa kami, atas amanah anak perempuan yang engkau titipkan. Kami akan menjaga amanah mu ini dengan sebaik-baiknya seperti engkau menjaga kami, AMIN."
Blogger
Google+
Facebook
Twitter